WATUITEM & THE FAITH







kp_id
Male
Indonesia

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


rss feed

Thursday, April 12, 2007
Sebuah Teladan

Ini adalah sebuah kisah tentang kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib dalam Khulafaurrasyidin yang sangat patut kita teladani.

Tidak ada khalifah yang paling mencintai ukhuwwah, ketika orang berusaha menghancurkannya, seperti Ali ibn Abi Thalib. Baru saja dia memegang tampuk pemerintahan, beberapa orang tokoh sahabat melakukan pemberontakan. Dua orang di antara pemimpin Muhajirin meminta izin untuk melakukan umrah. Ternyata mereka kemudian bergabung dengan pasukan pembangkang. Walaupun menurut hukum Islam pembangkang harus diperangi, Ali memilih pendekatan persuasif. Dia mengirim beberapa orang utusan untuk menyadarkan mereka. Beberapa pucuk surat dikirimkan. Namun, seluruh upaya ini gagal. Jumlah pasukan pemberontak semakin membengkak. Mereka bergerak menuju Basra.

Dengan hati yang berat, Ali menghimpun pasukan. Ketika dia sampai di perbatasan Basra, di satu tempat yang bernama Alzawiyah, dia turun dari kuda. Dia melakukan shalat empat rakaat. Usai shalat, dia merebahkan pipinya ke atas tanah dan air matanya mengalir membasahi tanah di bawahnya. Kemudian dia mengangkat tangan dan berdo'a: "Ya Allah, yang memelihara langit dan apa-apa yang dinaunginya, yang memelihara bumi dan apa-apa yang ditumbuhkannya. Wahai Tuhan pemilik 'arasy nan agung. Inilah Basra. Aku mohon kepada-Mu kebaikan kota ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya. Ya Allah, masukkanlah aku ke tempat masuk yang baik, karena Engkaulah sebaik-baiknya yang menempatkan orang. Ya Allah, mereka telah membangkang aku, menentang aku dan memutuskan bay'ah-ku. Ya Allah, peliharalah darah kaum Muslim."

Ketika kedua pasukan sudah mendekat, untuk terakhir kalinya Ali mengirim Abdullah ibn Abbas menemui pemimpin pasukan pembangkang, mengajak bersatu kembali dan tidak menumpahkan darah. Ketika usaha ini pun gagal, Ali berbicara di hadapan sahabat-sahabatnya, sambil mengangkat Al-Qur'an di tangan kanannya: "Siapa di antara kalian yang mau membawa mushaf ini ke tengah-tengah musuh. Sampaikanlah pesan perdamaian atas nama Al-Qur'an. Jika tangannya terpotong peganglah Al-Qur'an ini dengan tangan yang lain; jika tangan itu pun terpotong, gigitlah dengan gigi-giginya sampai dia terbunuh."

Seorang pemuda Kufah bangkit menawarkan dirinya. Karena melihat usianya terlalu muda, mula-mula Ali tidak menghiraukannya. Lalu dia menawarkannya kepada sahabat-sahabatnya yang lain. Namun, tak seorang pun menjawab. Akhirnya Ali menyerahkan Al-Qur'an kepada anak muda itu, "Bawalah Al-Qur'an ini ke tengah-tengah mereka. Katakan: Al-Qur'an berada di tengah-tengah kita. Demi Allah, janganlah kalian menumpahkan darah kami dan darah kalian."

Tanpa rasa gentar dan penuh dengan keberanian, pemuda itu berdiri di depan pasukan Aisyah. Dia mengangkat Al-Qur'an dengan kedua tangannya, mengajak mereka untuk memelihara ukhuwwah. Teriakannya tidak didengar. Dia disambut dengan tebasan pedang. Tangan kanannya terputus. Dia mengambil mushaf dengan tangan kirinya, sambil tidak henti-hentinya menyerukan pesan perdamaian. Untuk kedua kalinya tangannya ditebas. Dia mengambil Al-Quran dengan gigi-giginya, sementara tubuhnya sudah bersimbah darah. Sorot matanya masih menyerukan perdamaian dan mengajak mereka untuk memelihara darah kaum Muslim. Akhirnya orang pun menebas lehernya.

Pejuang perdamaian ini rubuh. Orang-orang membawanya ke hadapan Ali ibn Abi Thalib. Ali mengucapkan do'a untuknya, sementara air matanya deras membasahi wajahnya. "Sampai juga saatnya kita harus memerangi mereka. Tetapi aku nasihatkan kepada kalian, janganlah kalian memulai menyerang mereka. Jika kalian berhasil mengalahkan mereka, janganlah mengganggu orang yang terluka, dan janganlah mengejar orang yang lari. Jangan membuka aurat mereka. Jangan merusak tubuh orang yang terbunuh. Bila kalian mencapai perkampungan mereka janganlah membuka yang tertutup, jangan memasuki rumah tanpa izin, janganlah mengambil harta mereka sedikit pun. Jangan menyakiti perempuan walaupun mereka mencemoohkan kamu. Jangan mengecam pemimpin mereka dan orang-orang saleh di antara mereka."

Sejarah kemudian mencatat kemenangan di pihak Ali. Seperti yang dipesankannya, pasukan Ali berusaha menyembuhkan luka ukhuwwah yang sudah retak. Ali sendiri memberikan ampunan massal. Sejarah juga mencatat bahwa tidak lama setelah kemenangan ini, pembangkang-pembangkang yang lain muncul. Mu'awiyah mengerahkan pasukan untuk memerangi Ali. Ketika mereka terdesak dan kekalahan sudah di ambang pintu, mereka mengangkat Al-Qur'an, memohon perdamaian. Ali, yang sangat mencintai ukhuwwah, menghentikan peperangan. Seperti kita ketahui bersama, Ali dikhianati. Karena kecewa, segolongan dari pengikut Ali memisahkan diri. Golongan ini, kelak terkenal sebagai Khawarij, berubah menjadi penentang Ali. Seperti biasa, Ali mengirimkan utusan untuk mengajak mereka berdamai. Seperti biasa pula, upaya tersebut gagal.

Dari: Islam Aktual. Jalaluddin Rakhmat. Mizan, Jakarta 1991


Posted at 12:14 pm by kp_id
Make a comment  

PEDAGANG RAHASIA

Seorang guru mistik, setelah ia mencapai pengetahuan yang serba rahasia mengenai kebenaran sejati, yaitu pengetahuan yang hanya dapat dicapai oleh segelintir manusia, ia bermukim di Basrah.

Di sana ia memulai sebuah usaha dan dalam beberapa tahun saja telah memperoleh kemajuan.

Pada suatu hari seorang guru sufi yang telah mengenalnya beberapa tahun yang lalu, namun masih berada di atas jalan yang ditempuh oleh para pencari kebenaran, singgah di tempat kediamannya.

"Betapa gundah hatiku menyaksikan engkau yang telah meninggalkan pencarian dan jalan kaum mistik," berkata sang guru sufi. Pedagang yang arif bijaksana itu hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa.

Sang guru sufi kemudian meneruskan perjalanan dan didalam wejangan-wejangannya dikemudian hari ia sering kisahkan, betapa seseorang bekas sufi yang kemudian beralih kepada cita-cita yang rendah dalam dunia perdagangan karena ia tampaknya tak memiliki tekad yang perlu untuk menyelesaikan perjalanan.

Tetapi sang guru sufi pengelana ini akhirnya bertemu dengan Khaidir, sang penunjuk jalan rahasia. Si guru sufi memohon kepada Khaidir untuk mengantarkannya kepada guru arif bijaksana pada zaman itu, yang akan memberkahi terang ke dalam hatinya.

Khaidir berkata:

"Jumpailah seseorang pedagang anu, duduklah di kakinya, dan laksanakanlah kerja kasar yang disuruhnya".

Sang guru sufi tidak habis pikir, iapun berkata dengan tergagap:

"Tetapi betapa mungkin bahwa pedagang itu adalah salah seorang dari manusia-manusia terpilih, apalagi sebagai guru agung zaman kini?"

Khaidir menjawab:

"Karena ketika ia mendapatkan terang ia pun telah berhasil memperoleh pengetahuan duniawi. Untuk pertama kali ia rnenyadari bahwa sikap manusia suci menarik orang-orang tamak yang berpura-pura mencari pengetahuan spirituil dan menolak orang-orang tulus yang tidak takjub kepada penampilan lahiriah. Aku telah menunjukkan kepadanya betapa guru-guru yang saleh dapat ditenggelamkan oleh pengikut-pengikutnya. Maka ia memberi pengajaran dengan diam-diam dan bagi orang-orang yang dangkal penglihatan ia hanyalah seorang pedagang biasa."


Posted at 12:07 pm by kp_id
Make a comment  

Matahari Islam Berpendar-pendar

Jakarta , Jumat, 13-12-2002 16:29:09

GATRA.com - SAYA sedang menikmati pemandangan indah: berpendar-pendarnya matahari terbit kebangkitan Islam di Indonesia. Kekuatan mana di muka bumi ini yang berani melawan kedahsyatan simpanan kekuatan umat Islam, kalau santri sekelas Amrozi dan rombongannya saja mampu mengguncang dunia dan memerangahkan bumi? Dengan kemampuan teknologi bom yang ultramodern?

Ini baru level santri. Belum kiai ini, kiai itu. Belum Syekh Fulan atau Polan, Habib sana atau Habib sini, atau Gus Anu atau Gus Ano. Beberapa santri saja sudah cukup membuat Polri, BIN, Mossad, CIA, dan dinas intelijen Australia porak-poranda kesombongannya. Baru sekadar Amrozi!

Itu baru Lamongan sayap dusun luar --dunia sudah guncang. Belum Lamongan bagian Langitan dan kantong-kantong kekuatan bom Islam lainnya di kabupaten itu. Belum Bojonegoro, Tuban, Gresik. Jangankan lagi omong Pasuruan, Probolinggo, Jember, Situbondo --dan jangan pula sebut Jombang! Tandingan Jombang bukan pasukan-pasukan elite kelas dunia. Jombang disiapkan untuk menaklukkan ultra-sophisticated teknologi perang Dajjal yang kini ditatar di kedalaman laut Bermuda Triangle.

Kalau semua kekuatan Islam itu, cukup Jawa Timur saja, pada suatu hari serempak ber-triwikrama, mateg aji, unjuk kebolehan, pastilah Amerika dan Eropa rata tanah, seluruh permukaan bumi jadi padang pasir!

***

Memang, sebagian kecil kaum muslimin berprihatin dan bersedih hati atas persangkaan dihancurkankannya citra ulama dan kiai, dirusaknya nama baik dunia pesantren oleh kasus-kasus terorisme belakangan ini --atas yang mereka sangka tentang nasib Amrozi dan Imam Samudra. Atas seolah terpecahnya kepemimpinan Islam. Berserak-serak dan tercerai-berainya kekuatan umat Islam. Atas mitos dan prasangka tentang krisis moral, krisis akhlak, krisis bermacam-macam yang akhirnya disebut krisis total, dan sebagainya.

Padahal, Tuhan kasih kunci: "Engkau menyukai sesuatu yang sebenarnya buruk bagimu, dan engkau membenci sesuatu yang sesungguhnya baik bagimu." Apa yang kau sangka pengikisan nilai Islam ternyata pembangkitan nilai Islam. Sebaliknya, apa yang kau pikir mengibarkan nilai Islam nanti terbukti justru merusaknya. Apa yang kau kira de-Islamisasi sesungguhnya memiliki rahasia Islamisasi. Sebaliknya, apa yang kau yakini sebagai Islamisasi nanti kau jumpai sebagai proses penyirnaan Islam.

Kalau pengetahuanmu tidak rangkap dan gampang dijebak oleh sesuatu yang seolah-olah menyenangkan atau seakan-akan menjengkelkan, engkau akan sangat kaget jika suatu hari mendengar Amrozi memberikan pengakuan bahwa sesungguhnya dia jualah yang meledakkan Gunung Papandayan. Dan kalau para aparat tidak mau ngemong hati orang Islam, siap-siap suatu hari ada pasukan santri siluman lagi yang meledakkan Gunung Semeru, meletuskan Merapi, serta menumpahkan air samudra ke permukaan Pulau Jawa.

Hendaknya para penguasa membatasi keangkuhannya dengan menyadari bahwa para santri memegang warisan kekuatan-kekuatan dari masa silam: tongkat Nabi Musa, kapak Ibrahim, keris Kolomunyeng Sunan Giri, tongkat pendek Syekh Abdul Qodir Jaelani, serban Sunan Kalijaga, Setan Kober Penangsang, Sangkelat Karebet, dan belum lagi ilmu-ilmu sirrul asror dari Mbah Hamid, Sakajiwa-nya Adipati Kolopaking, kain mandarnya Imam Lapeo, atau air liur mustajabnya Gus Ud Kedungcangkring.

Itu semua simpanan baku tradisional umat Islam. Santri macam Samudra dan Amrozi bukan pemegang warisan kelas utama. Kalau nanti yang bergerak adalah mbahurekso kaum muslimin benar-benar, akibatnya tan kinoyo ngopo tan keno kiniro. Tak bisa Anda bayangkan dan rumuskan.

Sementara itu, jangan disangka umat Islam adalah kaum yang sibuk membangga-banggakan khazanah masa silam. Kalau engkau pelajari dengan saksama, kekuatan mutakhir yang dibangun umat Islam juga tidak bisa diremehkan siapa pun. Baik di bidang politik dan kekuasaan, di bidang pemikiran, di bidang tarikat dan batiniah, maupun di bidang teknologi dan budaya.

***

Apalagi kekuatan tasawuf kaum muslimin. Nashrudin Hoja, sesudah keledainya dicuri orang di halaman masjid, malah masuk masjid lagi dan bersujud lama sekali. Orang-orang bertanya: kehilangan kendaraan kok malah bersujud? Nashrudin menjawab: "Saya tadi melakukan sujud syukur. Sungguh saya berterima kasih kepada Allah bahwa hanya keledai saya yang hilang, sedangkan diri saya ini tidak ikut dicuri orang..."

Ini bukan hanya bermakna kritik atas hilangnya kepribadian manusia yang dicuri kekuatan nafsu kekuasaan, keserakahan kapitalistik, ditelan ideologi dan bukan me-manage ideologi pilihannya, dehumanisasi oleh industri, depersonalisasi oleh komunalisme, lenyapnya kemanusiaan oleh kepandaian atau oleh kebodohan. Tak hanya itu. Kisah Nashrudin ini juga bermakna sufistik, misalnya bahwa rezeki itu tidak hanya berbentuk memperoleh atau mendapatkan, melainkan bisa juga berbentuk kehilangan. Keuntungan tidak selalu berarti memiliki, bisa juga pada saat tidak memiliki. Kemenangan tidak hanya berarti menang dalam perebutan dan kenduri, kemenangan malah mungkin terjadi pada seseorang yang berpuasa dari perebutan, pesta pora, dan kerakusan.

Orang mengatakan bahwa kekuatan politik umat Islam terpecah-pecah, karena ia tidak tahu bahwa itu memang strategi yang disengaja. Politisi Islam tahu, jangan sampai terjadi hegemoni Islam di negara yang bukan Islam. Islam itu ngemong, bukan menguasai. Apa yang tampak terpecah-pecah itu sesungguhnya dinamika pluralisme dalam tubuh umat Islam. Islam itu memerdekakan, membuka pintu tafsir atau interpretasi seluas jumlah pemeluknya. Bisa ada sejuta mazhab dalam Islam. Jangankan sekadar beberapa puluh partai politik Islam.

Orang bilang ekonomi kaum muslimin terpuruk, karena mereka tidak mengerti pilihan utama pemeluk Islam berada di tengah-tengah. Ada level ghony, kaya. Ada level miskin dan ada level fakir. Orang Islam tidak memilih kaya, tapi juga menolak menjadi fakir. Cukup pilih miskin saja. Rasulullah Muhammad sendiri adalah 'abdan nabiyya: Nabi yang rakyat jelata. Beliau ditawari punya kekuasaan dan kekayaan seperti Nabi Sulaiman, namun menolak.

Itu pun, umumnya kaum muslimin masih tergolong kaya dibandingkan dengan Nabi Muhammad, yang rumah tinggalnya bersama Siti Aisyah panjangnya hanya 4,80 m, lebarnya 4,62 m. Itu pun tanpa kulkas, tanpa VCD player, AC, furnitur, dan aksesori. Jadi, kalau dari sisi negatif, perekonomian umat Islam seperti terpuruk, dari sisi positif hal itu menunjukkan bahwa mereka lebih memilih kekayaan akhirat daripada kekayaan dunia.

***

Jadi, apa yang perlu dicemaskan dari keadaan umat Islam di Indonesia? Kalau dikalahkan di dunia, toh engkau menang di akhirat. Dunia cuma sekejap, akhirat abadi. Apa keberatanmu?

Kalau namamu dicoreng kehinaan di bumi, engkau memperoleh kemuliaan di langit. Bumi hanya mikrokosmos, sedangkan langit makrokosmos. Apa alasanmu untuk tidak bersyukur?

Makin namamu dihancurkan, ditangkap, dihukum di dunia, makin populer dan tinggi indah kursimu di surga. Nikmat Allah yang mana yang masih engkau dustakan?

Allah menagih jihadmu, dan tidak mempertanyakan kemenangan duniawimu. Allah menantikan syahidmu, dan membayar penderitaan duniamu dengan pendaran-pendaran cahaya wajah-Nya sendiri yang abadi menggiurkanmu.

Katakanlah kita mulai kehilangan Buya Hamka, kita memiliki yang lebih dari itu: Quraish Shihab. Kita kehilangan Muhammad Natsir, malah muncul Yusril Ihza Mahendra. Mulai kehilangan Cak Nurcholish Madjid, malah dianugerahi Ulil Abshar Abdalla. Umpamanya pun kehilangan Ustad Zainuddin MZ, kita punya yang lebih dimensional: Aa Gym. Dan kalaupun akhirnya pada suatu hari nanti Gus Dur uzur, kita punya Saifullah Yusuf.

Kita punya banyak tokoh Islam fenomenologis. Pemikiran-pemikirannya mungkin menggelisahkan dan menjengkelkan ulama-ulama tua, tapi lambat laun orang-orang tua harus belajar kepada anak-anaknya.

Mereka itu letaknya di pinggir, tak terlalu dianggap kental Islamnya, tapi nanti akan ternyata keilmuannya memang ijtihadiyah --hanya saja, kita orang-orang tua terlambat memahaminya.

Kita punya banyak Nashrudin lain. Kecenderungan sikapnya seolah bertentangan dengan tradisi konvensional kaum tua. Padahal, sungguh kritik mereka sangat menohok. Setelah kaum muslimin "kehilangan keledai", Nashrudin-Nashrudin ini seakan tidak menunjukkan sikap militan untuk mengutuk si pencuri. Mereka malah kelihatan seperti melakukan sujud syukur atas tertangkapnya Ustad Ba'asyir, Amrozi, dan Samudra.

Bahkan terdengar seakan memuji-muji pihak yang dianggap musuh dan justru kaannahum mengutuk saudara-saudaranya seagama.

Itu semata-mata karena model kritisisme Nashrudin memang mempersyaratkan kecerdasan pikiran tingkat tinggi, kepekaan dan kejernihan hati yang sungguh-sungguh --untuk mampu menangkapnya. Itulah sebabnya, "yang kau anggap baik ternyata berbahaya, yang kau anggap buruk malah sebenarnya baik". Islam liberal malah dicurigai, sementara Islam sensual justru dibiarkan saja merajalela di mana-mana dari kampus-kampus hingga mal-mal.

***

Sungguh saya menikmati berpendarnya matahari kebangkitan Islam di Nusantara, terutama selama Ramadan, ketika siang, malam, pagi, sore, kita diguyur kenikmatan dan kemuliaan acara-acara Ramadan di sekian banyak siaran (syiar) televisi. Engkau yang berpengalaman melanglang buana ke mancanegara, jawablah apa ada Ramadan sesemarak tayangan TV-TV kita?

Engkau ingat hukum kompetensi: yang berwenang atas kualitas dunia sepak bola adalah PSSI, tinju adalah KTI, tepung adalah Bogasari, rawon adalah Probolinggo, dan gudeg adalah Yogyakarta. Jangan pesan gudeg ke Banyuwangi, jangan cari petinju hebat ke PSSI, dan jangan menambal ban bocor ke penjual rujak. Kalau mau berdakwah, PSSI-nya adalah ulama.

Siaran TV Ramadan memuat penyamaran-penyamaran strategis yang tentu didasarkan pada tiga prinsip dakwah: dengan hikmah, perlakuan yang tepat, menyerbu konsumen berdasarkan apa yang baik bagi konsumen. Kalau Topan-Leysus ada tanpa ustad, acara bisa tetap jalan. Kalau hanya ustad yang ada sedangkan Topan-Leysus tak ada, acara bisa batal. Demikian juga yang primer adalah Eko Patrio dan Ulfah Dwiyanti, Taufiq Savalas dan Elma Theana, dan seterusnya. Ustad yang hadir berposisi sekunder.

Apakah industri TV melanggar prinsip kompetensi? Tidak. Itu yang disebut penyamaran strategis. Supaya orang lain tak gampang mengidentifikasi kita, maka hijau disamarkan dengan kuning, merah disamarkan dengan jingga. Ustad atau kiai yang sesungguhnya adalah Topan, Leysus, Eko, Taufiq, dan lain-lain. Kiai yang tawadlu adalah yang menghindarkan diri dari sifat-sifat yang Tuhan tersinggung kepada pelakunya: riya', takabur, ujub, suka pamer, menonjol-nonjolkan diri.

Kiai-kiai sejati kita itu sepanjang tahun tidak pernah menunjukkan siapa mereka sebenarnya, tidak pernah memamerkan kekiaiannya, mereka menyamar jadi artis. Hanya pada Ramadan mereka harus polos luar-dalam, sebab puasa adalah ibadah yang diminta Allah pribadi secara langsung.

Siapa tahu, ternyata mereka itulah Wali Songo abad ke-21.

[Emha Ainun Nadjib, Budayawan]
[Kolom, GATRA, Nomor 04 Beredar Kamis 13 Desember 2002]


Posted at 09:49 am by kp_id
Make a comment  

Negeri Kebenaran

Ada seseorang yang yakin bahwa waktu jaga sehari-hari, sebagaimana yang kita saksikan, tidak mungkin sempurna.

Ia pun pergi mencari Guru Zaman yang sejati. Banyak kitab-kitab yang telah dibacanya dan banyak kalangan-kalangan yang telah diterjuninya, sehingga ia telah dapat mendengar ucapan-ucapan dan menyaksikan perbuatan-perbuatan dari berbagai guru. Ia melaksanakan perintah-perintah yang keras beserta latihan-latihan spirituil yang sangat menarik hatinya.

Ia sangat gembira karena mendapatkan pengalaman-pengalaman. Namun kadang-kadang ia bingung karena ia sama sekali tak tahu tingkatan apa yang telah dicapainya dan dimanakah atau kapankah pencariannya itu akan berakhir.

Pada suatu hari ketika sedang mengkaji segala tingkah lakunya ia mendapati dirinya telah berada di dekat rumah kediaman manusia-manusia arif bijaksana yang sangat terkenal. Di dalam rumah itu ia bertemu dengan Khaidir, penunjuk-jalan rahasia yang menunjukkan jalan ke arah kebenaran.

Khaidir membawanya ke suatu tempat di mana ia dapat menyaksikan manusia-manusia yang sedang sangat berduka dan sengsara. Kepada mereka ia bertanya, siapakah mereka itu sebenarnya.

Mereka menjawab: "Kami adalah manusia-manusia yang tidak mengkuti ajaran-ajaran yang sejati, yang tidak setia kepada tugas yang dibebankan ke atas pundak kami, dan yang [hanya] memuliakan guru-guru yang kami angkat sendiri."

Kemudian ia dibawa pula oleh Khaidir ke suatu tempat di mana setiap orang mempunyai wajah yang berseri-seri dan berbahagia. Kepada mereka ia bertanya, siapakah mereka itu sebenarnya.

Mereka menjawab: "Kami adalah manusia-manusia yang tidak menuruti Petunjuk-petunjuk Jalan yang sebenarnya."

"Tetapi bila engkau telah mengabaikan petunjuk-petunjuk itu mengapakah engkau bisa berbahagia?" bertanya si pengelana.

"Karena kami lebih senang memilih kebahagiaan daripada kebenaran," jawab mereka, "seperti orang-orang yang memilih guru-guru mereka sendiri sebenarnya memilih kesengsaraan pula."

"Tetapi bukankah kebahagiaan itu adalah cita-cita yang paling tinggi dari ummat manusia?" bertanya pula si pengelana.

"Tujuan yang terakhir dari ummat manusia adalah kebenaran. Kebenaran itu lebih daripada kebahagiaan. Seseorang yang telah mendapatkan kebenaran dapat memiliki perasaan-perasaan yang bagaimanapun menurut keinginannya atau membuang semua perasaan-perasaan itu. Kami telah berpura-pura bahwa kebenaran itu adalah kebahagiaan dan kebahagiaan itu adalah kebenaran dan orang-orang percaya kepada kami. Dan hingga saat inipun engkau sendiri menyangka bahwa kebahagiaan itu pastilah sama dengan kebenaran. Tetapi kebahagiaan akan memenjarakan dirimu sebagaimana yang dilakukan oleh kesengsaraan."

Kemudian sang pengelana rnenemukan dirinya telah berada kembali di halaman itu dengan Khaidir di sisinya.

"Aku akan mengabulkan sebuah permintaanmu," kata Khaidir.

"Aku ingin mengetahui mengapa aku telah gagal dalam mencari dan bagaimana aku dapat berhasil," jawab si pengembara.

"Engkau telah menyia-nyiakan seluruh hidupmu," kata Khaidir, "karena engkau adalah manusia pembohong. Engkau sebenarnya mencari kepuasan pribadi walaupun engkau [sebenarnya] dapat [memilih] mencari kebenaran."

"Namun aku sedang mencari kebenaran itu ketika aku bertemu denganmu. Dan hal ini tak terjadi terhadap setiap orang."

"Ya, engkau telah dapat menemuiku karena ketulusan hatimu cukup besar untuk menginginkan kebenaran demi kebenaran itu sendiri walaupun untuk sesaat saja. Ketulusan hatimu yang sesaat itulah yang menyebabkan aku datang untuk memenuhi himbauanmu."

[sesaat kemudian] Kini si pengelana merasakan keinginan yang menggelora untuk menemui kebenaran meskipun ia akan tenggelam. Namun Khaidir telah beranjak pergi dan ia pun mengejarnya.

"Jangan engkau ikuti aku ", seru Khaidir, "aku akan kembali ke dunia yang penuh tipu, karena disitu[-lah] aku seharusnya berada untuk melakukan tugasku."

Ketika si pengelana melihat ke sekelilingnya, sadarlah ia bahwa ia tak lagi berada di halaman rumah sang guru arif bijaksana tetapi sedang berada di tengah-tengah negeri kebenaran.


Posted at 09:33 am by kp_id
Make a comment  

Wednesday, April 11, 2007
Dua Keinginan

Di keheningan malam, Sang Maut turun dari hadirat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan sang lelap.

Ketika rembulan tersungkur kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam legam, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di tengah pemukiman -- berhati-hati tidak menyentuh apapun -- sampai tiba di sebuah istana. Dia masuk dan tak seorang pun kuasa menghalangi. Dia tegak di sisi sebuah ranjang dan menyentuh pelupuk matanya, dan orang yang tidur itu bangun dengan ketakutan.

Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan, "Menyingkirlah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau masuk istana ini? Apa yang kau inginkan? Minggatlah, karena akulah empunya rumah ini. Enyahlah kamu, kalau tidak, kupanggil para budak dan para pengawal untuk mencincangmu menjadi kepingan!"

Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, "Akulah kematian, berdiri dan membungkuklah kepadaku."

Dan si kaya berkuasa itu bertanya, "Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika pekerjaanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kuat seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri oleh taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku bergetar menatap sayap-sayapmu yang menjijikan dan tubuhmu yang memuakkan."

Setelah diam beberapa saat dan tersadar dari ketakutannya, ia menambahkan, "Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah emasku seperlunya atau nyawa salah seorang dari budak, dan tinggalkanlah diriku... Aku masih memperhitungkan kehidupan yang masih belum terpenuhi dan kekayaan pada orang-orang yang belum terkuasai. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, dan pada hasil bumi yang belum tersimpan. Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya selir, cantik bagai pagi hari, untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putra tunggal yang kusayangi, dialah biji mataku. Ambillah dia juga, tapi tinggalkan diriku sendirian."

Sang Maut itu menggeram, engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak tahu diri. Kemudian Maut mengambil tangan orang itu, mencabut kehidupannya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk memeriksanya.

Dan maut berjalan perlahan di antara orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling kumuh yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, "Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah ruhku, impianku yang mengejawantah dan hakikat harapanku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, karena kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Jangan tinggalkan daku."

"Aku telah memanggilmu berulang kali, namun kau tak mendengarkan. Tapi kini kau telah mendengarku, karena itu jangan kecewakan cintaku dengan peng-elakan diri. Peluklah ruhku, Sang Maut terkasih."

Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruhnya di bawah sayap-sayapnya.

Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang -- ke dunia -- dan dalam bisikan ia berkata, "Hanya mereka yang di dunia mencari Keabadian-lah yang sampai ke Keabadian itu."

(dari "Kelopak-Kelopak Jiwa" - Gibran Khalil Gibran)


Posted at 03:59 pm by kp_id
Make a comment  

Thursday, April 05, 2007
MALAM

Singkaplah Rahasia Malam......

Malam.....
Keindahan, kesepian, kedinginan, kesyaduanmu meyimpan segala rahasia yang telah berlaku di zaman silam. Gelapmu kadang-kala jadi penyejuk ibadat para hamba yang merindukan Tuhan. Tapi adakalanya kesempatan bagi pendosa yang menyangka malam dapat melindungi ia dari penglihatan Tuhan-Nya.

Kesunyian ditunggu oleh sepasang kekasih memadu kasih. Cumbu rayu menjadi bisikan yang gemersik menyuburkan kasih. Dan malam datang menjanjikan saat itu. Saat hamba berdiri, duduk dan baring menyebut nama Allah yang satu.

Habibah Al-Adawiyah merintih di waktu malam: "Tuhanku, bintang-bintang telah menghilang di balik awan. Mata insan telah tidur lelap. Pintu-pintu istana para maharaja telah terkunci. Lalu setiap kekasih telah berdua-duaan dengan kekasihnya. Dan inilah aku tampil menghadap-Mu....."

Dan malam juga adalah detik hamba yang berdosa rujuk pada keampunanNya. Lalu dalam derai air matanya yang gugur di dada malam meluncurlah kata-kata penyesalan atas keterlanjuran dan kesalahan. Seolah-olah terdengarlah di telinganya makna sebuah firman, "Demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tidak pula membenci kamu."
-- Ad-Dhuha.

Malam....
Kalau ia dipenuhi ribut petir yang dahsyat, kenangilah azab Tuhanmu. Kalau ia dihiasi bulan dan bintang, haraplah rahmat-Nya. Keindahannya biar menerangi hatimu, kegelapannya usah menghitamkan amalmu.

Uwais Al-Qarni menyambut kedatangan malam dengan katanya, "Ini malam rukuk," lalu beliau pun sembahyang dengan rukuknya yang panjang hingga menjelang fajar. Di malam yang lain ia berkata, "Inilah malam sujud." Lalu sujudlah beliau sepanjang malam sampai fajar tiba sebagai pamit kepada malam hingga beransur hilang. Itulah malam pada Uwais Al-Qarni. Awas! kedatangan malam mungkin seiring dengan saat kematian. Tidurmu mungkin untuk selama-lamanya. Kegelapan malam mungkin bersambung ke alam kubur. Dan malam itu terakhir buatmu selama di dunia. Mungkin karena menyadari hakikat inilah Rasulullah (saw) pernah mengajar kita berdoa ketika mau tidur, "Ya Allah, dengan nama-Mu Yang mematikan dan Yang menghidupkan."

Esok ketika bangun dari tidur kita dianjurkan berdoa, "Syukur kepada Allah yang menghidupkan kita setelah kita dimatikan. Dan kepada-Nyalah kita akan dikembalikan." Tidur adalah lambang kematian. Dan malam, ketika memejamkan mata di waktu malam, kenangilah walau sedetik saat kematian. Mudah-mudahan kau dapat merasakan seperti yang dialami oleh seorang wali Amir bin Abdullah: "Tidak ada aku lihat sesuatu yang dinamakan syurga, di mana pencarinya asyik tidur. Dan tidak pernah pula aku lihat sesuatu yang dinamakan neraka, di mana orang yang hendak menghindarinya asyik tidur saja."

Malam adalah pesta ibadat bagi kekasih-kekasih Allah. Di sana mereka memperoleh ketenangan. Ketenangan yang abadi.... kebahagiaan yang hakiki.



Sumber: ukhuwah fillah, lancaster UK, aisyah91@hotmail.com
       
Editor: eija@telkom.net, jakarta

Posted at 04:24 pm by kp_id
Make a comment  

Resep Resah Hati

Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.


Ayat ke-2, sangat menampar kondisi bangsa kita saat ini. Dikala kita banyak berteriak reformasi tetapi perbuatan sehari-hari masih jauh dari apa yang kita teriakkan. Apa kita tidak sadar sudah begitu parah penyakit yang ada dalam hati kita? Memang urusan hati urusan masing-masing atau boleh dibilang urusan paling pribadi yang orang lain tidak mungkin bisa merubahnya. Cuman hasil dari kontemplasi dalam batin bakalan kelihatan lewat tindak tanduk kita, nah baru disinilah orang lain berperan untuk membetulkan apa yang salah dalam diri kita. Kita cenderung untuk menolak ajakan orang yang mengkritik diri kita ketimbang mengiyakan kritikan itu. Memang ada orang dengan tingkatan tertentu dalam kebersihan hatinya mampu meresapi apa-apa yang orang lain pikirkan. Ya, memang ada. Baru saja kita mampir ke rumahnya entah itu sowan, konsultasi keagamaan atau tukar pikiran .....dia sudah bisa menebak bakalan kemana alur pembicaraan....yang jelas orang tersebut bukanlah orang kebanyakan dari kita. Terus bagaimana tindakan yang harus kita ambil untuk menyikapi kondisi hati komponen bangsa yang sudah akut penyakitnya? Saya punya beberapa analisa sebelum kita masuk ke langkah-langkah teknis penanggulangan.

Pertama: Apa benar orang yang kita asumsikan mempunyai penyakit hati yang kronis 'merasa' bahwa dia sedang sakit? Pertanyaan ini harus kita jawab, caranya dengan melihat, membaca dan mendengar kepribadian dia. Untuk seorang pemimpin besar seperti Gus Dur tentu kita bisa mencari jawabannya. Penyakit ini sangat halus untuk dilihat secara kasat mata namun efeknya amat besar berimbas ke orang lain.

Kedua, sodorkan dengan pernyataan Allah di surat 61:2, seperti yang diatas. Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Apa dia/kita sudah merasa beriman? Bagaimana kita tahu tanda-tanda keimanan kita? Seberapa besar iman kita kepada-Nya. Apa kita lupa apa yang selama ini kita cari, mau kemanakah hidup ini diarahkan, untuk siapa kita mau berkorban sedemikian rupa hingga merelakan jiwa dan harta kita?



Sumber: Setiaji Kurniawan, eija@telkom.net

Posted at 11:29 am by kp_id
Make a comment  

Hai

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ini blognya watuitem yang baru, yang isinya buat hal-hal yang berbau motivasi, renungan dan pemahaman terutama dalam bidang keagamaan.

Biar bisa seimbang dalam menjalani hidup, ngga cuman mengalir apa adanya saja, namun sesekali juga perlu perenungan agar dalam menjalani hidup bisa mengalir dengan baik menuju kesempurnaan walaupun semua tahu bahwa sempurna itu nggak mungkin.

Jadi apa yang ada dalam blog ini mohon disikapi dengan hati yang dingin tanpa ada perpecahan yang tidak diinginkan.

"Nek seneng yo meluo, nek gak seneng yo ojok melu nanging ojo ngilokno", kata seorang kyai yang masih teringat sampai sekarang.

Ya, kata - kata diatas kalau kita renungkan dan jalani, Insya Allah tidak akan ada perpecahan yang berarti dalam menjalankan ibadah.

Itu Saja

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Watuitem

Posted at 09:43 am by kp_id
Make a comment