Jakarta , Jumat, 13-12-2002 16:29:09
GATRA.com - SAYA sedang menikmati pemandangan indah:
berpendar-pendarnya matahari terbit kebangkitan Islam di
Indonesia. Kekuatan mana di muka bumi ini yang berani
melawan kedahsyatan simpanan kekuatan umat Islam, kalau
santri sekelas Amrozi dan rombongannya saja mampu
mengguncang dunia dan memerangahkan bumi? Dengan kemampuan
teknologi bom yang ultramodern?
Ini baru level santri. Belum kiai ini, kiai itu. Belum
Syekh Fulan atau Polan, Habib sana atau Habib sini, atau Gus
Anu atau Gus Ano. Beberapa santri saja sudah cukup membuat
Polri, BIN, Mossad, CIA, dan dinas intelijen Australia
porak-poranda kesombongannya. Baru sekadar Amrozi!
Itu baru Lamongan sayap dusun luar --dunia sudah guncang.
Belum Lamongan bagian Langitan dan kantong-kantong kekuatan
bom Islam lainnya di kabupaten itu. Belum Bojonegoro, Tuban,
Gresik. Jangankan lagi omong Pasuruan, Probolinggo, Jember,
Situbondo --dan jangan pula sebut Jombang! Tandingan Jombang
bukan pasukan-pasukan elite kelas dunia. Jombang disiapkan
untuk menaklukkan ultra-sophisticated teknologi perang
Dajjal yang kini ditatar di kedalaman laut Bermuda Triangle.
Kalau semua kekuatan Islam itu, cukup Jawa Timur saja,
pada suatu hari serempak ber-triwikrama, mateg aji, unjuk
kebolehan, pastilah Amerika dan Eropa rata tanah, seluruh
permukaan bumi jadi padang pasir!
***
Memang, sebagian kecil kaum muslimin berprihatin dan
bersedih hati atas persangkaan dihancurkankannya citra ulama
dan kiai, dirusaknya nama baik dunia pesantren oleh
kasus-kasus terorisme belakangan ini --atas yang mereka
sangka tentang nasib Amrozi dan Imam Samudra. Atas seolah
terpecahnya kepemimpinan Islam. Berserak-serak dan
tercerai-berainya kekuatan umat Islam. Atas mitos dan
prasangka tentang krisis moral, krisis akhlak, krisis
bermacam-macam yang akhirnya disebut krisis total, dan
sebagainya.
Padahal, Tuhan kasih kunci: "Engkau menyukai sesuatu yang
sebenarnya buruk bagimu, dan engkau membenci sesuatu yang
sesungguhnya baik bagimu." Apa yang kau sangka pengikisan
nilai Islam ternyata pembangkitan nilai Islam. Sebaliknya,
apa yang kau pikir mengibarkan nilai Islam nanti terbukti
justru merusaknya. Apa yang kau kira de-Islamisasi
sesungguhnya memiliki rahasia Islamisasi. Sebaliknya, apa
yang kau yakini sebagai Islamisasi nanti kau jumpai sebagai
proses penyirnaan Islam.
Kalau pengetahuanmu tidak rangkap dan gampang dijebak
oleh sesuatu yang seolah-olah menyenangkan atau seakan-akan
menjengkelkan, engkau akan sangat kaget jika suatu hari
mendengar Amrozi memberikan pengakuan bahwa sesungguhnya dia
jualah yang meledakkan Gunung Papandayan. Dan kalau para
aparat tidak mau ngemong hati orang Islam, siap-siap suatu
hari ada pasukan santri siluman lagi yang meledakkan Gunung
Semeru, meletuskan Merapi, serta menumpahkan air samudra ke
permukaan Pulau Jawa.
Hendaknya para penguasa membatasi keangkuhannya dengan
menyadari bahwa para santri memegang warisan
kekuatan-kekuatan dari masa silam: tongkat Nabi Musa, kapak
Ibrahim, keris Kolomunyeng Sunan Giri, tongkat pendek Syekh
Abdul Qodir Jaelani, serban Sunan Kalijaga, Setan Kober
Penangsang, Sangkelat Karebet, dan belum lagi ilmu-ilmu
sirrul asror dari Mbah Hamid, Sakajiwa-nya Adipati
Kolopaking, kain mandarnya Imam Lapeo, atau air liur
mustajabnya Gus Ud Kedungcangkring.
Itu semua simpanan baku tradisional umat Islam. Santri
macam Samudra dan Amrozi bukan pemegang warisan kelas utama.
Kalau nanti yang bergerak adalah mbahurekso kaum muslimin
benar-benar, akibatnya tan kinoyo ngopo tan keno kiniro. Tak
bisa Anda bayangkan dan rumuskan.
Sementara itu, jangan disangka umat Islam adalah kaum
yang sibuk membangga-banggakan khazanah masa silam. Kalau
engkau pelajari dengan saksama, kekuatan mutakhir yang
dibangun umat Islam juga tidak bisa diremehkan siapa pun.
Baik di bidang politik dan kekuasaan, di bidang pemikiran,
di bidang tarikat dan batiniah, maupun di bidang teknologi
dan budaya.
***
Apalagi kekuatan tasawuf kaum muslimin. Nashrudin Hoja,
sesudah keledainya dicuri orang di halaman masjid, malah
masuk masjid lagi dan bersujud lama sekali. Orang-orang
bertanya: kehilangan kendaraan kok malah bersujud? Nashrudin
menjawab: "Saya tadi melakukan sujud syukur. Sungguh saya
berterima kasih kepada Allah bahwa hanya keledai saya yang
hilang, sedangkan diri saya ini tidak ikut dicuri orang..."
Ini bukan hanya bermakna kritik atas hilangnya
kepribadian manusia yang dicuri kekuatan nafsu kekuasaan,
keserakahan kapitalistik, ditelan ideologi dan bukan
me-manage ideologi pilihannya, dehumanisasi oleh industri,
depersonalisasi oleh komunalisme, lenyapnya kemanusiaan oleh
kepandaian atau oleh kebodohan. Tak hanya itu. Kisah
Nashrudin ini juga bermakna sufistik, misalnya bahwa rezeki
itu tidak hanya berbentuk memperoleh atau mendapatkan,
melainkan bisa juga berbentuk kehilangan. Keuntungan tidak
selalu berarti memiliki, bisa juga pada saat tidak memiliki.
Kemenangan tidak hanya berarti menang dalam perebutan dan
kenduri, kemenangan malah mungkin terjadi pada seseorang
yang berpuasa dari perebutan, pesta pora, dan kerakusan.
Orang mengatakan bahwa kekuatan politik umat Islam
terpecah-pecah, karena ia tidak tahu bahwa itu memang
strategi yang disengaja. Politisi Islam tahu, jangan sampai
terjadi hegemoni Islam di negara yang bukan Islam. Islam itu
ngemong, bukan menguasai. Apa yang tampak terpecah-pecah itu
sesungguhnya dinamika pluralisme dalam tubuh umat Islam.
Islam itu memerdekakan, membuka pintu tafsir atau
interpretasi seluas jumlah pemeluknya. Bisa ada sejuta
mazhab dalam Islam. Jangankan sekadar beberapa puluh partai
politik Islam.
Orang bilang ekonomi kaum muslimin terpuruk, karena
mereka tidak mengerti pilihan utama pemeluk Islam berada di
tengah-tengah. Ada level ghony, kaya. Ada level miskin dan
ada level fakir. Orang Islam tidak memilih kaya, tapi juga
menolak menjadi fakir. Cukup pilih miskin saja. Rasulullah
Muhammad sendiri adalah 'abdan nabiyya: Nabi yang rakyat
jelata. Beliau ditawari punya kekuasaan dan kekayaan seperti
Nabi Sulaiman, namun menolak.
Itu pun, umumnya kaum muslimin masih tergolong kaya
dibandingkan dengan Nabi Muhammad, yang rumah tinggalnya
bersama Siti Aisyah panjangnya hanya 4,80 m, lebarnya 4,62
m. Itu pun tanpa kulkas, tanpa VCD player, AC, furnitur, dan
aksesori. Jadi, kalau dari sisi negatif, perekonomian umat
Islam seperti terpuruk, dari sisi positif hal itu
menunjukkan bahwa mereka lebih memilih kekayaan akhirat
daripada kekayaan dunia.
***
Jadi, apa yang perlu dicemaskan dari keadaan umat Islam
di Indonesia? Kalau dikalahkan di dunia, toh engkau menang
di akhirat. Dunia cuma sekejap, akhirat abadi. Apa
keberatanmu?
Kalau namamu dicoreng kehinaan di bumi, engkau memperoleh
kemuliaan di langit. Bumi hanya mikrokosmos, sedangkan
langit makrokosmos. Apa alasanmu untuk tidak bersyukur?
Makin namamu dihancurkan, ditangkap, dihukum di dunia,
makin populer dan tinggi indah kursimu di surga. Nikmat
Allah yang mana yang masih engkau dustakan?
Allah menagih jihadmu, dan tidak mempertanyakan
kemenangan duniawimu. Allah menantikan syahidmu, dan
membayar penderitaan duniamu dengan pendaran-pendaran cahaya
wajah-Nya sendiri yang abadi menggiurkanmu.
Katakanlah kita mulai kehilangan Buya Hamka, kita
memiliki yang lebih dari itu: Quraish Shihab. Kita
kehilangan Muhammad Natsir, malah muncul Yusril Ihza
Mahendra. Mulai kehilangan Cak Nurcholish Madjid, malah
dianugerahi Ulil Abshar Abdalla. Umpamanya pun kehilangan
Ustad Zainuddin MZ, kita punya yang lebih dimensional: Aa
Gym. Dan kalaupun akhirnya pada suatu hari nanti Gus Dur
uzur, kita punya Saifullah Yusuf.
Kita punya banyak tokoh Islam fenomenologis.
Pemikiran-pemikirannya mungkin menggelisahkan dan
menjengkelkan ulama-ulama tua, tapi lambat laun orang-orang
tua harus belajar kepada anak-anaknya.
Mereka itu letaknya di pinggir, tak terlalu dianggap
kental Islamnya, tapi nanti akan ternyata keilmuannya memang
ijtihadiyah --hanya saja, kita orang-orang tua terlambat
memahaminya.
Kita punya banyak Nashrudin lain. Kecenderungan sikapnya
seolah bertentangan dengan tradisi konvensional kaum tua.
Padahal, sungguh kritik mereka sangat menohok. Setelah kaum
muslimin "kehilangan keledai", Nashrudin-Nashrudin ini
seakan tidak menunjukkan sikap militan untuk mengutuk si
pencuri. Mereka malah kelihatan seperti melakukan sujud
syukur atas tertangkapnya Ustad Ba'asyir, Amrozi, dan
Samudra.
Bahkan terdengar seakan memuji-muji pihak yang dianggap
musuh dan justru kaannahum mengutuk saudara-saudaranya
seagama.
Itu semata-mata karena model kritisisme Nashrudin memang
mempersyaratkan kecerdasan pikiran tingkat tinggi, kepekaan
dan kejernihan hati yang sungguh-sungguh --untuk mampu
menangkapnya. Itulah sebabnya, "yang kau anggap baik
ternyata berbahaya, yang kau anggap buruk malah sebenarnya
baik". Islam liberal malah dicurigai, sementara Islam
sensual justru dibiarkan saja merajalela di mana-mana dari
kampus-kampus hingga mal-mal.
***
Sungguh saya menikmati berpendarnya matahari kebangkitan
Islam di Nusantara, terutama selama Ramadan, ketika siang,
malam, pagi, sore, kita diguyur kenikmatan dan kemuliaan
acara-acara Ramadan di sekian banyak siaran (syiar)
televisi. Engkau yang berpengalaman melanglang buana ke
mancanegara, jawablah apa ada Ramadan sesemarak tayangan
TV-TV kita?
Engkau ingat hukum kompetensi: yang berwenang atas
kualitas dunia sepak bola adalah PSSI, tinju adalah KTI,
tepung adalah Bogasari, rawon adalah Probolinggo, dan gudeg
adalah Yogyakarta. Jangan pesan gudeg ke Banyuwangi, jangan
cari petinju hebat ke PSSI, dan jangan menambal ban bocor ke
penjual rujak. Kalau mau berdakwah, PSSI-nya adalah ulama.
Siaran TV Ramadan memuat penyamaran-penyamaran strategis
yang tentu didasarkan pada tiga prinsip dakwah: dengan
hikmah, perlakuan yang tepat, menyerbu konsumen berdasarkan
apa yang baik bagi konsumen. Kalau Topan-Leysus ada tanpa
ustad, acara bisa tetap jalan. Kalau hanya ustad yang ada
sedangkan Topan-Leysus tak ada, acara bisa batal. Demikian
juga yang primer adalah Eko Patrio dan Ulfah Dwiyanti,
Taufiq Savalas dan Elma Theana, dan seterusnya. Ustad yang
hadir berposisi sekunder.
Apakah industri TV melanggar prinsip kompetensi? Tidak.
Itu yang disebut penyamaran strategis. Supaya orang lain tak
gampang mengidentifikasi kita, maka hijau disamarkan dengan
kuning, merah disamarkan dengan jingga. Ustad atau kiai yang
sesungguhnya adalah Topan, Leysus, Eko, Taufiq, dan
lain-lain. Kiai yang tawadlu adalah yang menghindarkan diri
dari sifat-sifat yang Tuhan tersinggung kepada pelakunya:
riya', takabur, ujub, suka pamer, menonjol-nonjolkan diri.
Kiai-kiai sejati kita itu sepanjang tahun tidak pernah
menunjukkan siapa mereka sebenarnya, tidak pernah memamerkan
kekiaiannya, mereka menyamar jadi artis. Hanya pada Ramadan
mereka harus polos luar-dalam, sebab puasa adalah ibadah
yang diminta Allah pribadi secara langsung.
Siapa tahu, ternyata mereka itulah Wali Songo abad ke-21.
[Emha Ainun Nadjib, Budayawan]
[Kolom, GATRA, Nomor 04 Beredar Kamis 13 Desember
2002]